Rabu, 12 Desember 2012

Sebuah Renungan Tentang Sifat Rakus

Suatu Hari, Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib berkunjung ke sebuah daerah. Di sana, ia menjumpai sekelompok orang asyik mendengarkan seorang pemuda budak berbicara. Sang Amirul Mukminin menaruh perasaan. Ia ingin tahu apa yang mereka dengarkan. Setelah didekati, Amirul mukmininkemudia menyuruh budak itu menghampiri dirinya.
“Ada apa wahai Amirul Mukminin?” tanya budak itu dengan penuh rendah hati.
“Kamu boleh meneruskan, jika kamu sanggup menjawab dua pertanyaan saya. Kalau tidak, jangan teruskan pembicaraan kamu di tengah orang-orang itu,” kata Sayyidina Ali sambil menunjukkan tangannya ke arah sekelompok orang.
Apa yang hendak Amirul Mukminin tanyakan?” balas pemuda budak itu, balik bertanya,
“Perkara apa yang dapat menguatkan agama, dan perkara apa pula yang dapat merusaknya?” tanya sayyidina Ali dengan serius.
“Yang bisa menguatkan agama adalah sifat wara', dan perkara yang bisa merusak agama adalah tamak atau rakus,” jawab anak muda itu singkat.
Mendengar jawaban itu Amirul mukminin merasa puas. Ia cukup terkagum dengan jawaban si pemuda itu. Kemudian ia pun mempersilahkan pemuda budak itu meneruskan pembicaraannya di tengah kerumunan orang. Bagi Sayyidina Ali, pemuda itu memang layak berbicara di hadapan orang banyak.
Pemuda itu tak lain adalah Hasan al-Basri. Ia adalah tokoh sufi terkemuka di zamannya. Ia berpendapat , sifat rakus terhadap segala sesuatu dapat mengantarkan umat islam pada rusaknya agama. Rakus, menurutnya, adalah sifat yang bisa menjangkiti manusia kapan saja. Sifat ini disebabkan karena seseorang tak pandai bersyukur atas apa yang dimilikinya.
Masih ingat kisah Qarun di zaman nabi Musa? Sifat rakus telah menjangkiti Qarun dan membinasakannya. Padahal, Nabi Musa as pernah menegurnya agar tidak rakus pada kekayaan yang dimilikinya. Akibatnya, ia tenggelam bersama seluruh kekayaan yang dimilikinya.
Masih ingat kisah Tsa'labah di zaman Nabi Muhammad SAW? Ia semua miskin. Tapi, setelah ia menjadi kaya, ia justru semakin rakus dengan kekayaannya. Akibatnya, ia pun jatuh menjadi miskin kembali. Tragisnya ia telah lupa pada perintah Nabi.
Seorang filsuf islam, Ar-Razi, pernah memberikan nasihat bijaksana. Sifat rakus dapt membawa manusia pada bencana dan malapetaka. Memburu kekayaan secara berlebihan adalah bentuk kekeliruan dalam hidup. Karena itu, pesannya, simpanlah kekayaan berdasarkan kebutuhan seadanya dan selayaknya. Hindarilah sifat rakus, karena itu dapt mengantar pada kehancuran pada diri sendiri.
Wallahu A'lam bis Shawab.

Sumber :
Majalah Hidayah edisi 72. Halaman 97. Penulis: Uup Ghufron.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar